Berbagai produk olahan seperti bakso ikan, nugget ikan, hingga lele marinasi diproduksi secara rutin oleh kelompok usaha masyarakat. Program tersebut tak hanya meningkatkan keterampilan warga, tetapi juga membuka peluang tambahan pendapatan di wilayah kepulauan yang selama ini memiliki keterbatasan lapangan pekerjaan.
External Relation Manager PT DIB, Sugeng Sulistiyo, mengatakan program pemberdayaan ini dirancang untuk meningkatkan nilai tambah hasil laut sekaligus memperkuat peran perempuan dalam menopang ekonomi keluarga.
“Perempuan pesisir memiliki potensi besar dalam mendorong perubahan ekonomi rumah tangga. Melalui pelatihan dan pendampingan ini, kami ingin potensi tersebut berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan,” ujar Sugeng, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, sebelumnya hasil perikanan masyarakat lebih banyak diolah secara tradisional seperti pengeringan dan pengasinan, dengan nilai jual yang cenderung fluktuatif. Kini, melalui inovasi produk olahan modern, hasil tangkapan nelayan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Program tersebut dijalankan melalui pembentukan kelompok usaha berbasis spesialisasi produk. Setiap kelompok difokuskan pada satu jenis olahan tertentu agar proses produksi lebih efektif dan kualitas produk tetap terjaga.
Ketua Kelompok Bakso Ikan Dusun Raya, Mardiana, mengaku program tersebut menjadi peluang baru bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan di Desa Pelapis.
“Di pulau kami memang tidak banyak pekerjaan. Setelah diajak bergabung, saya tertarik ikut karena bisa menambah penghasilan keluarga,” katanya.
Ia mengatakan, kelompoknya kini melakukan produksi dua hingga tiga kali dalam sepekan. Dalam proses produksi, dirinya bertanggung jawab pada tahap pengukusan bakso untuk memastikan kualitas produk tetap baik sebelum dipasarkan.
Sementara itu, Ketua Kelompok Nugget Ikan, Latipah, menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjadi aktivitas produktif bagi ibu rumah tangga.
“Selain menambah penghasilan, kegiatan ini juga membuat waktu luang lebih bermanfaat. Kami selalu menjaga kualitas dengan menggunakan ikan segar agar rasa produk lebih baik dan sehat,” ujarnya.
Saat ini, seluruh produk olahan hasil kelompok usaha masyarakat dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) pengembangan industri pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium.
PT DIB mencatat kapasitas produksi kolektif masyarakat kini mencapai sekitar 200 kilogram per bulan. Program tersebut juga disebut mampu meningkatkan pendapatan anggota kelompok hingga 40 persen serta memperkuat kebersamaan antarwarga.
Ke depan, perusahaan berkomitmen memperluas pasar produk masyarakat, memperkuat infrastruktur pendukung, serta menjaga keberlanjutan pengelolaan bahan baku hasil perikanan di wilayah pesisir. (Ad)
