![]() |
| Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Ketapang, Theo Bernadhi. (*) |
Theo meminta Pertamina Patra Niaga menindaklanjuti persoalan tersebut dan mencopot Rio dari jabatannya sebagai SBM Ketapang.
Dugaan intimidasi itu mencuat setelah video aksi demonstrasi mahasiswa terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Ketapang viral di media sosial. Dalam video tersebut, Rio terlihat ikut mendorong sepeda motor bersama mahasiswa dalam aksi teatrikal di sekitar Fuel Terminal (Jobber) Ketapang.
Menurut informasi yang diterima KAHMI, Ketua HMI Cabang Ketapang sempat menerima telepon dari seseorang yang mengaku berasal dari Jobber Ketapang. Setelah itu, Rio menghubunginya secara langsung melalui telepon seluler.
Dalam percakapan tersebut, Rio disebut mengajak Ketua HMI bertemu langsung untuk membahas persoalan yang muncul setelah video aksi demonstrasi beredar.
“Jadi di situ ada tindak pidana pencemaran nama baik ya, Bang. Kami sebenarnya ada solusi, cuma saya tidak mau lewat telepon dan mau ketemu langsung,” kata Rio dalam percakapan tersebut.
Rio juga disebut menyampaikan pernyataan yang dinilai bernada ancaman. Ia meminta adanya itikad baik dan menyebut akan ada informasi lebih lanjut jika hal itu tidak dilakukan.
“Saya punya hak menuntut abang,” ujar Rio dalam percakapan telepon dengan Ketua HMI Ketapang.
Menanggapi hal itu, Theo menilai dugaan intimidasi terhadap pimpinan organisasi mahasiswa merupakan persoalan serius. Terlebih, komunikasi tersebut terjadi setelah mahasiswa menyampaikan aspirasi terkait kelangkaan BBM yang berdampak pada aktivitas masyarakat.
Menurut Theo, aksi demonstrasi tersebut merupakan bentuk penyampaian pendapat di muka umum. Ia mengatakan, mahasiswa juga telah mengikuti ketentuan dengan berunjuk rasa pada jarak sekitar 500 meter dari halaman kantor Jobber Ketapang.
Adapun aksi mendorong sepeda motor, menurut dia, merupakan bagian dari aksi teatrikal sebagai bentuk protes mahasiswa.
“Di mana letak unsur pidananya? Itu jelas sebuah ancaman,” kata Theo.
Ia menduga viralnya video tersebut menjadi salah satu pemicu munculnya persoalan dengan mahasiswa. Namun, dugaan itu perlu diklarifikasi oleh pihak-pihak terkait agar duduk perkara menjadi jelas.
Theo menegaskan, persoalan utama yang disampaikan mahasiswa dalam demonstrasi itu adalah kelangkaan BBM di Ketapang. Karena itu, ia meminta Pertamina lebih berfokus pada penyelesaian persoalan pasokan dan distribusi BBM ketimbang membawa persoalan tersebut ke ranah personal.
“Jangan sampai energi yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat justru habis hanya karena takut malu videonya viral. Pertamina harus menunjukkan sikap profesional, terbuka, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Theo meminta Pertamina Patra Niaga memberikan klarifikasi terbuka terkait dugaan komunikasi bernada intimidasi tersebut. Menurut dia, klarifikasi diperlukan agar persoalan tidak berkembang menjadi polemik yang lebih luas.
Ia juga mendesak Executive General Manager (EGM) Regional atau Sales Area Manager (SAM) Kalimantan Barat mengambil tindakan terhadap SBM Ketapang, termasuk mempertimbangkan pencopotan dari jabatannya.
“Kami minta EGM Regional atau SAM Kalbar untuk mencopot SBM Ketapang. Jangan pernah menganggap suara mahasiswa sebagai ancaman. Mereka hadir menyampaikan persoalan yang dirasakan masyarakat,” kata Theo.
Ia menambahkan, setiap keberatan terhadap aksi atau pernyataan mahasiswa seharusnya diselesaikan melalui mekanisme yang berlaku, bukan dengan komunikasi yang dapat ditafsirkan sebagai tekanan terhadap pihak yang menyampaikan aspirasi.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan dari Rio Fairuz Prambudi maupun Pertamina Patra Niaga mengenai dugaan intimidasi tersebut. (Ndi)
