-->

Dari Kue Seribu Rupiah, Muzaki Menebar Kebaikan di Kampung-Kampung Tebas

Editor: Agustiandi author photo

Muzaki bersama kedua anaknya bersiap menjajakan kue keliling kampung di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas, Kalbar. (Foto : Dokumen pribadi) 
Sambas (Suara Ketapang) - Matahari belum tinggi ketika Muzaki mulai menyalakan sepeda motornya. Di atas kendaraan itu, kue-kue dagangan ditata. Satu per satu dibawa menyusuri jalan kampung di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Sesekali, dua anak laki-lakinya bergantian ikut menemani. 

Muzaki bukan pedagang besar. Usianya 37 tahun. Ia seorang penjual kue keliling yang setiap hari berusaha membawa pulang rezeki untuk keluarganya. Ia telah berkeluarga dan memiliki dua anak laki-laki. Namun, hingga kini keluarganya masih tinggal di rumah orangtuanya.

Hidup sederhana membuat Muzaki tahu bahwa rezeki tidak selalu datang dalam jumlah berlebih. Tetapi justru dari rezeki yang terbatas itu, ia belajar menyisihkan.

Bukan untuk dirinya. Melainkan untuk orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Ada lansia yang hidup seorang diri. Ada penyandang disabilitas. Ada warga tunanetra. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mereka awalnya hanya pembeli kue. Lalu, perlahan, menjadi orang-orang yang ia datangi untuk sekadar membawa makanan dan menyapa.

Bagi Muzaki, di sela aktivitas berjualan keliling, ada wajah-wajah yang membuatnya berhenti. Ada rumah-rumah yang membuatnya kembali dan ada orang-orang yang ternyata tidak hanya membutuhkan makanan, tetapi juga kehadiran seseorang.

Berawal dari Rasa Iba

Muzaki mulai berbagi sejak Ramadan 2023. Namun, kegiatan itu baru dilakukan secara aktif dan rutin setelah Lebaran Idul Adha 2025 hingga sekarang.

Awalnya tidak ada rencana besar. Saat berjualan dari Desa Serindang. Ia bekerkeliling ke Desa Sungai Kelambu, Matang Labong sampai ke Parik Jawai. Dari perjalanannya menjajakan kue itulah dia sering bertemu lansia, penyandang disabilitas dan tunanetra yang hidup dalam keterbatasan. Sebagian datang membeli kue. Dari perjumpaan itulah rasa iba muncul.

"Yang membuat saya tergerak untuk berbagi saat melihat lansia, disabilitas dan tunanetra yang tinggal sendirian untuk membeli kue. Jadi timbul rasa iba dan kasihan," ujar Muzaki saat dihubungi belum lama ini. 

Ia kemudian mulai memberikan sebagian kue dagangannya kepada mereka. Tanpa disangka, kebaikan kecil itu dilihat orang lain. Sejumlah warga yang melihat unggahannya di media sosial kemudian menghubunginya. Mereka ingin ikut berbagi. Ada yang membeli kue untuk dirinya, tetapi meminta kue itu diberikan kepada orang lain.

Sejak saat itu, Muzaki mulai rutin mendokumentasikan kegiatan berbagi tersebut dan mengunggahnya di Facebook.

Kolase warga menerima sedekah kue yang dibagikan Muzaki, penjual kue keliling di Sambas. Dari rezeki yang sederhana, ia memilih berbagi kepada mereka yang membutuhkan. (*) 
Ia mengatakan, unggahan itu bukan untuk menunjukkan kebaikannya. Ia hanya ingin para donatur mengetahui bahwa titipan mereka benar-benar sampai kepada penerima. Dari sana, semakin banyak orang menitipkan sedekah. Kue yang awalnya hanya dagangan, perlahan berubah menjadi jembatan kebaikan.

Seribu Rupiah yang Menjangkau Banyak Orang

Setiap Jumat, seorang donatur tetap menitipkan sekitar 300 potong kue kepada Muzaki. Kue itu dikemas dalam paket berisi 10 potong. Namun, jumlah tersebut sering bertambah. 

Pada Jumat tertentu, titipan dari berbagai orang bisa mencapai 800 potong kue. Ada yang menitipkan 20 potong, 50 potong, 100 potong, bahkan 200 potong. Harga satu potong kue Rp1.000.

Bagi Muzaki, kue merupakan bentuk sedekah yang sederhana tetapi bisa menjangkau banyak orang.

"Kalau sedekah kue yang dapat bisa banyak orang. Kalau sedekah sembako mungkin hanya beberapa orang," katanya.

Muzaki sendiri merupakan pedagang kue keliling. Ketika orang membeli dagangannya untuk disedekahkan, kue-kue itu lebih cepat habis. Ia pun tidak perlu berkeliling terlalu jauh.

Selain membagikan kue, Muzaki  juga menyalurkan bantuan sembako yang dihimpun bersama Warganet untuk warga yang membutuhkan. (*) 
Namun, ia tidak pernah meminta orang membeli dagangannya untuk bersedekah. Baginya, keputusan tetap berada di tangan orang yang ingin berbagi.

Selain kue, ada pula donatur yang menitipkan uang dan sembako. Bahkan, pernah ada yang menitipkan mesin pompa air satu set, rice cooker dan sejumlah peralatan rumah tangga untuk warga yang membutuhkan. Muzaki hanya memastikan semuanya sampai.

Seorang nenek yang menunggu suara motornya

Di antara banyak penerima sedekah, ada satu nama yang paling melekat di hati Muzaki.

Wan Mastor. Perempuan kelahiran Sungai Kelambu, 4 Juli 1943, itu kini hidup seorang diri. Suaminya telah meninggal. Anaknya meninggal ketika masih duduk di bangku sekolah.

Wan Mastor tinggal di Dusun Sungai, RT 15 RW 07, Desa Sungai Kelambu, Kecamatan Tebas. Rumah yang ditempatinya pun bukan milik sendiri. Ia menumpang di lahan milik orang lain.

Untuk bertahan hidup, Wan Mastor memelihara ayam. Ternak itu dijual ketika membutuhkan uang. Ia juga memperoleh sedikit penghasilan dari menjual pinang dan bantuan dari tetangga.

Muzaki mengenalnya ketika berjualan kue. Dari pertemuan itu, ia kemudian beberapa kali kembali. Ada satu hal yang membuat Muzaki terdiam. Ketika ia terlalu lama tidak datang, Wan Mastor akan mencarinya.

"Kalau saya jarang singgah, Nek Uan Mastor selalu mencari saya," kata Muzaki.

Ada kesedihan ketika Muzaki menyadari hal itu. Sebab, ternyata yang ditunggu Wan Mastor bukan makanan yang dibawanya. Melainkan seseorang yang datang mengetuk pintu.

"Yang ditunggu Wan Mastor bukan kue saye, tapi kedatangan saya ke rumahnye. Mun saye singgah, Uan suke, tannang die mun dah tau kabar dan keadaan saye," tutur Muzaki. 

Wan Mator (83) terharu saat menerima bantuan yang disalurkan Muzaki. Air mata bahagia kerap menetes karena ia merasa masih ada orang yang tulus datang membantu. (*) 

Kalimat itu mungkin sederhana. Tetapi bagi seseorang yang menjalani hari sendirian, kedatangan seorang tamu bisa menjadi momen paling penting. Mungkin, selama beberapa waktu setelah Muzaki pergi, rumah itu kembali sunyi. Namun, setidaknya ada satu pagi ketika Wan Mastor tahu bahwa masih ada orang yang mengingatnya.

Sebungkus kue dan sebuah doa

Muzaki juga pernah menerima sesuatu yang tidak bisa ia masukkan ke dalam kantong dagangannya. Sebuah doa. Seorang penerima sedekah pernah mendoakannya agar suatu hari dimudahkan menjalankan ibadah haji atau umrah. Doa itu terus ia ingat.

Kini, ketika berkunjung kepada para lansia dan penerima bantuan, Muzaki justru sering meminta mereka mendoakannya. Agar suatu hari keinginannya untuk beribadah ke Tanah Suci dapat terwujud.

Kolase beragam kue yang setiap hari dijajakan Muzaki. Sebagian kue yang dibawanya tak hanya untuk dijual, tetapi juga disisihkan untuk dibagikan sebagai sedekah kepada mereka yang membutuhkan. (*) 
Ia tidak tahu kapan doa itu akan terkabul. Tetapi ia percaya, kebaikan tidak pernah benar-benar hilang. Kadang kembali dalam bentuk rezeki. Kadang dalam bentuk ketenangan. Kadang hanya berupa doa dari seseorang yang sebelumnya tidak dikenalnya.

Mengajak dua anaknya melihat arti rezeki

Muzaki sering membawa anaknya ketika berjualan. Bukan karena ia ingin anak-anaknya ikut bekerja. Ada alasan sederhana. Istrinya merupakan guru honorer dan harus mengajar di sekolah. Sementara ibunya bekerja di sawah menanam padi. Ketika tidak ada yang menjaga anak di rumah, Muzaki membawa mereka ikut berkeliling.

Namun, perjalanan itu sekaligus menjadi ruang belajar. Dua anak laki-lakinya melihat sendiri bagaimana ayah mereka mencari nafkah. Mereka melihat kue-kue dijajakan dari satu rumah ke rumah lain.

Mereka juga melihat bagaimana sebagian kue tidak berakhir sebagai barang dagangan, melainkan diberikan kepada orang lain. Ada pesan yang selalu disampaikan Muzaki.

"Jangan malu untuk menjemput rezeki yang halal. Sekolah yang rajin biar mudah untuk menggapai cita-cita," katanya.

Mungkin itu pelajaran yang tidak ditemukan di ruang kelas. Tentang bekerja. Tentang tidak malu hidup sederhana. Dan tentang memahami bahwa rezeki yang sedikit pun masih bisa dibagi.

Pernah lelah, tetapi tidak ingin berhenti

Muzaki tidak menutupi bahwa perjalanan itu melelahkan. Ada hari ketika kue yang dibawanya tidak habis. Pada saat seperti itu, sempat terlintas keinginannya untuk berhenti.

Namun, ada hal lain yang membuatnya bertahan. Senyum. Senyum orang-orang yang menerima kue.

"Sangat-sangat bahagia," katanya ketika ditanya perasaannya setelah berbagi.

Baginya, kebahagiaan itu muncul ketika melihat orang lain tersenyum. Mungkin kue yang diberikan hanya bernilai seribu rupiah. Tetapi bagi orang yang sedang lapar, kesepian atau hidup dalam keterbatasan, nilainya bisa jauh lebih besar.

Tidak perlu menunggu kaya

Muzaki tidak menganggap sedekah sebagai sesuatu yang hanya bisa dilakukan orang kaya. Ia sendiri masih hidup sederhana. Meski telah berkeluarga dan memiliki dua anak, ia masih tinggal di rumah orangtuanya.

Penghasilannya pun berasal dari berjualan kue keliling. Tetapi justru dari keadaan itu ia menemukan keyakinan bahwa berbagi tidak harus menunggu seseorang memiliki banyak harta. 

"Bersedekah itu tidak harus dengan uang atau harta. Cukup dengan senyuman manis dan tidak menyakiti hati orang lain, itu juga sedekah," ujar alumni SMA 2 Tebas tersebut. 

Menurutnya, bahkan memberikan sebutir gula kepada semut pada pagi hari dapat menjadi bentuk kebaikan. Pesannya kepada orang-orang yang merasa belum mampu bersedekah sederhana.

"Bersedekahlah selagi mampu dan jangan menunggu mampu baru mau bersedekah. Karena ajal rahasia Allah. Kita tidak tahu kapan akan dipanggil kembali kepada-Nya," ucap Muzaki. 

Dagangan, anak dan titipan kebaikan

Setiap pagi, Muzaki kembali menata kue di atas sepeda motornya. Kadang anaknya ikut. Lalu kendaraan itu bergerak menyusuri jalan-jalan kampung. 

Ada kue yang terjual. Ada kue yang dititipkan. Ada rumah yang didatangi untuk mengantarkan sedekah. Dan mungkin ada seseorang yang sedang menunggu.

Bukan menunggu sebungkus kue. Tetapi menunggu suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Muzaki berharap semakin banyak orang yang tergerak untuk peduli.

Sebab, menurutnya, masih banyak orang di sekitar yang membutuhkan uluran tangan. Ia pun menitipkan doa kepada mereka yang selama ini mempercayakan sedekah kepadanya.

Semoga para donatur dan keluarganya diberi kesehatan, umur panjang, rezeki yang berkah, dijauhkan dari bala dan marabahaya, serta selalu dikelilingi orang-orang baik.

Di Kecamatan Tebas, kisah Muzaki mungkin terlihat kecil. Seorang lelaki 37 tahun. Seorang suami. Ayah dari dua anak laki-laki. Seorang pedagang kue yang masih tinggal bersama orangtuanya.

Tetapi setiap pagi, dari rezeki yang tidak berlebihan itu, ia menyisihkan sesuatu. Sepotong demi sepotong. Seribu rupiah demi seribu rupiah. Sampai akhirnya, kue-kue sederhana itu membawa lebih dari sekadar rasa kenyang.

Ia membawa perhatian. Membawa senyum. Membawa doa dan bagi seseorang seperti Wan Mastor, mungkin yang paling berarti bukan isi bungkusan yang dibawa Muzaki. Melainkan kenyataan bahwa di dunia yang semakin ramai, masih ada seseorang yang mau datang dan berbagi. (Ndi) 

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play