-->

Hadapi Musim Kemarau, Kabupaten Ketapang Rancang Strategi 10 Tahun Cegah Karhutla

Editor: Agustiandi author photo

Diskusi bertajuk "Berbagi Pengalaman dan Strategi Pencegahan Karhutla Berbasis Masyarakat" di Hotel Nevada, Ketapang, Selasa (22/7/2025). 
Ketapang (Suara Ketapang) - Untuk memperkuat strategi pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Ketapang, Tim Pelaksana Pemantauan Karhutla (TPPG) bersama Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Alam (Sekber PSDA) dan Tropenbos Indonesia menggelar diskusi bertajuk "Berbagi Pengalaman dan Strategi Pencegahan Karhutla Berbasis Masyarakat" di Hotel Nevada, Ketapang, Selasa (22/7/2025).  

Kegiatan ini dihadiri 65 peserta dari beragam latar belakang, termasuk perwakilan pemerintah daerah, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Manggala Agni, BPBD, Perkim LH, LSM, swasta, komunitas the Power of Mama (TPoM), Perempuan Penggerak Perubahan serta kelompok masyarakat dari desa rawan Karhutla seperti Sungai Pelang, Sungai Besar, dan Pematang Gadung. Tujuannya, menyusun langkah konkret menghadapi musim kemarau 2025.  

Karhutla telah menjadi bencana tahunan yang mengancam ekosistem, kesehatan dan perekonomian. Dalam sambutannya, perwakilan Pemda Ketapang menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak, mengacu pada Rencana Aksi Daerah (RAD) Masterplan Pencegahan Karhutla. 

"Pelibatan masyarakat dalam pencegahan karhutla di landscape gambut seperti Pawan-Kepuluh-Pesaguan dan Simpang Dua adalah kunci keberhasilan," ujar Absalon, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM.  

Donatus Rantan, Ketua Sekber PSDA, menambahkan, pencegahan lebih efektif dan murah jika melibatkan semua pihak. Menurutnya, diskusi ini menjadi konsolidasi untuk menyatukan strategi jangka panjang.

Inisiatif Lokal dan Teknologi Pendukung

Masturi, anggota Tim Pelaksana Pengelola Gambut (TPPG) Desa Sungai Besar, memaparkan peran kelompok masyarakat seperti Masyarakat Peduli Api (MPA), LPHD, dan relawan perempuan (TPOM) dalam patroli dan pemantauan. 

"Kami dilatih untuk membuat sekat kanal, memantau tinggi muka air gambut, dan menggunakan alat deteksi dini," jelasnya.  

Kepala BAPEPDA Kabupaten Ketapang,menyoroti inovasi teknologi seperti aplikasi Smart Patrol, drone pemantau, dan sistem pelaporan via WhatsApp. Ia menilai hal ini mampu memperkuat sistem peringatan dini. 

"Regulasi seperti Perbup No. 48/2023 tentang Masterplan Pencegahan Karhutla juga mendukung penguatan kapasitas masyarakat," tegasnya.  

Tantangan dan Solusi Berkelanjutan

Meski progres telah dicapai, kendala seperti minimnya dana operasional, keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) dan kebiasaan membuka lahan dengan bakar masih menghantui. Solusi yang diusulkan pada diskusi kali ini diantaranya adalah insentif ekonomi bagi petani yang beralih ke teknik tanpa bakar, pelatihan berkelanjutan dan kaderisasi SDM. Pengembangan usaha ramah lingkungan seperti budidaya madu dan perikanan dan penyediaan logistik desa secara bertahap.  

Ketua Sekber PSDA, Donatus menutup diskusi dengan pesan tegas. Ia menekankan, pencegahan karhutla bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Ia menyatakan, dengan gotong royong, akan mampu mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan guna menyelamatkan lingkungan untuk generasi mendatang. 

Acara yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 15.30 WIB ini diharapkan menjadi titik awal aksi nyata pencegahan karhutla di Ketapang, dengan masyarakat sebagai pelaku utama. (Ndi)

Share:
Komentar

Berita Terkini