-->

Kemarau Panjang, Harga Sawit Petani di Ketapang - Kayong Rp2.850-Rp3.100 per Kg

Editor: Agustiandi author photo
TBS Sawit. (*) 
Kayong Utara (Suara Ketapang) - Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat belum berdampak signifikan terhadap harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani.

Di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, harga yang diterima petani masih berada di kisaran Rp2.850 hingga Rp3.100 per kilogram. Harga tersebut berdasarkan keterangan sejumlah petani yang menjual hasil panennya kepada pengepul di masing-masing wilayah.

Partono (66), petani di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, mengatakan harga sawit yang diterimanya dari pengepul sekitar Rp3.100 per kilogram.

"Harga seminggu kemarin pas saya jual Rp3.100 satu kilogram," kata Partono saat diwawancarai, Kamis (10/9/2026).

Menurut Partono, dalam satu kali penjualan hasil panennya bisa mencapai lebih dari satu ton. Namun, volume penjualan bergantung pada waktu panen.

Ia menyebut panen tidak selalu dilakukan setiap pekan. Dalam kondisi tertentu, jeda panen bisa mencapai dua minggu.

"Saya bisa sekali jual paling satu ton lebih. Saya jual sedikit-sedikit karena panennya kadang seminggu sekali atau dua minggu sekali," ujarnya.

Didi (48), warga Desa Banyu Abang, Kecamatan Teluk Batang, mengatakan harga terakhir yang diterimanya dari pengepul sebesar Rp2.850 per kilogram.

"Kalau di sini terakhir saya jual Rp2.850 per kilo. Saya jual ke pengepul di sini dan mereka langsung ambil buah di depan rumah," kata Didi.

Menurut Didi, harga TBS yang diterima petani tidak seragam. Perbedaan harga dipengaruhi pengepul dan mekanisme potongan yang diterapkan.

Ia menyebut ada pengepul yang membeli dengan harga sekitar Rp2.700 per kilogram, sementara pengepul lainnya bisa mencapai Rp2.850.

"Sebetulnya harga beda pengepul beda harganya. Ada Rp2.700, ada yang Rp2.850," katanya.

Didi menjelaskan, pengepul yang menawarkan harga lebih rendah biasanya menerapkan potongan sekitar 4 hingga 6 persen dari hasil timbangan.

Potongan tersebut, kata dia, menjadi antisipasi terhadap penyusutan berat buah selama proses pengangkutan menuju pabrik kelapa sawit.

"Biasanya yang harganya lebih murah karena ada potongan persen dari pengepul. Ada potongan 4 sampai 6 persen, potongan itu antisipasi dari pengepul untuk buah susut saat diantar ke pabrik," tuturnya. 

Sejauh ini, kemarau panjang belum menyebabkan perubahan berarti pada harga sawit di tingkat petani di dua wilayah tersebut. Namun, kondisi cuaca yang panas dan minim hujan tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi aktivitas perkebunan dan produksi sawit jika berlangsung dalam waktu lama. (Ndi) 

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play