-->

Kenapa Hujan Buatan Belum Bisa Dilakukan di Ketapang? Bupati : Tak Ada Bibit Awan

Editor: Agustiandi author photo

Bupati Ketapang Alexander Wilyo saat memimpin rapat daring membahas upaya penanganan kemarau panjang dan karhutla, Jumat (4/9/2026). (ist) 
Ketapang (Suara Ketapang) - Pemerintah Kabupaten Ketapang telah meminta pemerintah pusat melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Namun, OMC belum dapat dilakukan di Ketapang.

Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengatakan, kendalanya adalah belum adanya bibit awan di wilayah Ketapang.

“Saya juga sudah menyurati kepada BNPB dan meminta pemerintah pusat termasuk gubernur kita melakukan operasi modifikasi cuaca atau OMC, hujan buatan,” kata Alex saat rapat daring bersama jajarannya se-Kabupaten Ketapang, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, pelaksanaan hujan buatan membutuhkan bibit awan sebagai salah satu syarat utama.

“Namun syarat hujan buatan itu adanya bibit-bibit awan,” ujarnya.

Alex menyebut kondisi angin saat ini turut memengaruhi keberadaan awan di Ketapang. Angin bertiup dari selatan menuju utara. Kondisi tersebut membuat awan dan bibit awan yang terbentuk ikut bergeser ke wilayah utara.

“Karena tadi angin bertiup kencang dari selatan ke utara, awan dan bibit-bibit yang ada juga bergeser ke utara,” katanya.

Akibatnya, wilayah Ketapang bagian selatan hampir tidak memiliki awan yang dapat mendukung pelaksanaan OMC.

“Sehingga di Ketapang ini tidak ada bibit awan,” ujarnya.

Hujan Hanya Terjadi di Simpang Hulu

Alex menjelaskan, kondisi cuaca tersebut juga menjelaskan mengapa sejumlah daerah di Kalimantan Barat mendapatkan hujan, sementara sebagian besar wilayah Ketapang masih mengalami kemarau.

Ia menyebut Pontianak, Sambas, dan Bengkayang sebagai beberapa wilayah yang mengalami hujan. Sementara di Ketapang, hujan disebut hanya turun di wilayah Simpang Hulu.

“Kenapa di Pontianak ada hujan, di Sambas ada hujan, di Bengkayang ada hujan dan di Ketapang itu hujannya hanya di wilayah Simpang Hulu,” katanya.

Menurut Alex, posisi Simpang Hulu yang berada di bagian utara Ketapang membuat wilayah tersebut masih memiliki awan.

“Simpang Hulu itu adalah wilayah utara, masih ada awan di sana. Kalau di wilayah selatan ini hampir tidak ada awan,” ujarnya.

Alex meminta kondisi tersebut disampaikan kepada masyarakat agar publik memahami alasan OMC belum dapat dilakukan.

“Ini mohon dimaklumi dan disampaikan kepada masyarakat. Kenapa tidak ada hujan buatan? Karena tidak ada bibit awan,” katanya.

Ia menegaskan informasi tersebut berdasarkan data BMKG.

“Data BMKG, bukan data saya, sampai hari ini tidak ada bibit awan di Ketapang. Jadi, tidak bisa dilakukan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan,” ujarnya.

Ketapang  Miliki Hotspot Tertinggi

Di tengah sulitnya mendapatkan hujan, Ketapang masih menghadapi ancaman karhutla.

Alex mengatakan, berdasarkan data BMKG, Ketapang menjadi daerah dengan hotspot tertinggi dan jumlah karhutla terbesar di Kalimantan Barat.

“Hotspot tertinggi dan jumlah karhutla terbesar di Kalimantan Barat itu adalah di Ketapang. Itu data dari BMKG,” katanya.

Namun, kondisi kualitas udara dan jarak pandang terburuk justru berada di wilayah utara Kalimantan Barat. Menurut Alex, hal itu menunjukkan asap dari Ketapang terbawa angin ke arah utara.

“Tetapi jarak pandang dan kualitas udara terburuk ada di arah utara. Artinya apa? Asap dari Ketapang ini ditiup oleh angin ke atas ke utara,” ujarnya.

Alex berharap kondisi cuaca segera berubah sehingga bibit awan kembali tersedia. Ia berharap OMC dapat segera dilakukan ketika kondisi tersebut terpenuhi.

“Mudah-mudahan minggu ini atau minggu depan bibit awan sudah ada. Kita bisa segera melakukan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan,” katanya. (Ad) 

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play