Kegiatan ini melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), unsur TNI-Polri, serta masyarakat setempat.
Translokasi dilakukan setelah adanya laporan warga terkait kemunculan orangutan di area perkebunan. Sejak akhir tahun lalu, satwa tersebut kerap melintasi kebun kelapa dan karet milik warga. Namun dalam sepekan terakhir, orangutan itu menetap di kebun kelapa, memicu kerugian dan kekhawatiran warga karena ukuran tubuhnya yang besar.
Asisten Manager Orangutan Protection Unit YIARI, Muhadi, menegaskan bahwa translokasi merupakan langkah terakhir setelah berbagai opsi penanganan dipertimbangkan.
“Langkah ini untuk menjamin keselamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik dengan manusia. Dari hasil asesmen, keberadaannya berisiko menimbulkan kerugian ekonomi dan rasa takut yang dapat berujung tindakan berbahaya,” ujarnya.
Tim gabungan bergerak sejak pagi dan tiba di lokasi sekitar pukul 07.00 WIB. Proses evakuasi dilakukan menggunakan senapan bius oleh tim YIARI dengan perhitungan dosis anestesi secara cermat oleh dokter hewan.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan orangutan tersebut dalam kondisi sehat, meski ditemukan luka alami di bagian wajah, lengan kiri, serta fraktur pada gigi.
“Luka kemungkinan disebabkan lingkungan sekitar seperti semak bambu. Saat ini kondisinya sudah pulih dan layak untuk ditranslokasikan,” jelas drh. Rachel dari YIARI.
Usai pemeriksaan, orangutan kemudian dibawa menuju kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang dinilai memiliki perlindungan kuat serta ketersediaan pakan yang cukup. Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ditempuh sekitar dua jam melalui jalur darat dan air.
Setibanya di kawasan hutan, proses pelepasliaran turut melibatkan masyarakat. Orangutan kemudian dilepas lebih jauh ke dalam hutan untuk memastikan keamanan dan adaptasi yang optimal.
Saat dilepaskan, satwa tersebut menunjukkan respons positif dengan segera bergerak menjauh dan kembali menunjukkan perilaku liar, sebagai tanda siap hidup mandiri di alam.
Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengapresiasi sinergi seluruh pihak dalam kegiatan ini.
“Translokasi ini merupakan bagian dari upaya penyelamatan orangutan sekaligus meminimalisasi konflik dengan manusia. Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak, terutama masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, menegaskan komitmennya menjaga kawasan konservasi.
“Tugas kami memastikan Taman Nasional Gunung Palung tetap menjadi habitat yang aman bagi orangutan dan satwa liar lainnya,” ujarnya.
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyoroti perubahan tata guna lahan sebagai tantangan utama dalam mitigasi konflik manusia dan satwa liar.
“Perubahan yang cepat dan tidak terencana menyulitkan orangutan beradaptasi. Diperlukan perencanaan tata guna lahan yang terintegrasi agar konflik bisa diminimalkan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa orangutan merupakan penghuni asli kawasan tersebut.
“Orangutan bukan pendatang. Mereka sudah lebih dulu hidup di sini sebelum terjadi konversi lahan. Kita perlu belajar hidup berdampingan,” tutupnya. (*)
