Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun sekaligus memperkuat komitmen menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak sejak hari pertama masuk sekolah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bunda PAUD Kabupaten Ketapang, Lusia Dewi Nurjana Alexander Wilyo, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kemendikdasmen Ananto Kusuma Seta, perwakilan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dendi Wijaya Saputra, unsur Forkopimcam Matan Hilir Selatan, serta para guru PAUD dan SD.
Lusia Dewi Nurjana mengatakan Program KREASI telah berjalan hampir dua tahun di Kabupaten Ketapang dan menjangkau enam kecamatan melalui berbagai program peningkatan kualitas pendidikan.
Menurutnya, transisi dari PAUD ke SD harus menjadi pengalaman yang menyenangkan sehingga anak merasa aman, nyaman, dan percaya diri memasuki jenjang pendidikan dasar.
"Proses transisi PAUD ke SD harus berlangsung dengan lembut, menyenangkan, dan mengedepankan pendidikan yang ramah anak. Kita ingin anak-anak melangkah ke sekolah dengan bahagia, percaya diri, dan mendapatkan pengalaman belajar yang positif," ujarnya.
Ia kembali menegaskan bahwa pelaksanaan MPLS harus bebas dari segala bentuk tekanan terhadap anak, termasuk praktik tes membaca, menulis, dan berhitung (calistung) sebagai syarat masuk SD.
"Tidak boleh lagi ada tes membaca, menulis, dan berhitung saat masuk SD. Fokus pertama kita adalah membuat anak merasa nyaman berada di sekolah. Setelah itu baru mereka belajar secara bertahap sesuai perkembangan masing-masing," tegasnya.
Lusia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak selama masa transisi menuju sekolah dasar.
Ia mengajak para orang tua membangun kebiasaan positif sejak di rumah, seperti membangunkan anak lebih pagi, mengantar mereka ke sekolah dengan penuh kesabaran, serta menanamkan pemahaman bahwa sekolah merupakan tempat yang menyenangkan.
"Jangan pernah menyerah menyekolahkan anak. Pastikan mereka mendapatkan hak pendidikan mulai dari PAUD, SD hingga pendidikan yang lebih tinggi," katanya.
Sementara itu, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Ananto Kusuma Seta, menjelaskan program tersebut merupakan bagian dari implementasi kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun yang menempatkan PAUD sebagai fondasi penting sebelum anak memasuki sekolah dasar.
Ia mengatakan berbagai penelitian menunjukkan bahwa masa transisi dari PAUD ke SD merupakan fase yang sangat menentukan perkembangan psikologis maupun keberhasilan belajar anak.
"Kalau transisinya baik, anak akan lebih percaya diri, nyaman, dan siap menerima pembelajaran. Sebaliknya, jika prosesnya buruk, anak bisa mengalami stres dan itu menjadi awal berbagai persoalan dalam pendidikan," ujarnya.
Karena itu, kata Ananto, pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem pendidikan yang menghubungkan PAUD dan SD secara berkesinambungan, termasuk melalui pengembangan konsep TK-SD satu atap agar anak tidak merasa memasuki lingkungan yang benar-benar baru.
Menurutnya, KREASI tidak hanya mendukung peningkatan kapasitas guru, tetapi juga membantu penyediaan sarana pembelajaran seperti buku dan alat edukasi bagi anak-anak.
"Ketapang menunjukkan sinergi yang sangat baik antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Kolaborasi seperti ini menjadi modal penting untuk menciptakan generasi yang unggul di masa depan," katanya.
Ananto menambahkan, investasi terbesar dalam pembangunan sumber daya manusia berada pada pendidikan anak usia dini.
"Yang paling mahal bukan hanya kemampuan akademik, tetapi pembentukan karakter dan soft skill anak. Karena itu, sekolah dan orang tua harus berjalan beriringan. Guru pertama bagi anak tetaplah orang tua di rumah," pungkasnya.
Melalui kampanye tersebut, KREASI berharap semakin banyak sekolah menerapkan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan sehingga seluruh anak di Kabupaten Ketapang memperoleh pengalaman belajar yang positif sejak hari pertama menginjak bangku sekolah dasar. (Ad)

