Kepala Desa Sungai Nanjung, Hariansyah, mengatakan kondisi debu saat ini cukup parah. Debu bahkan masuk ke lingkungan permukiman dan menempel pada rumah warga.
“Ini debu jalan paling parah sepanjang sejarah,” kata Hariansyah, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, warga yang berada di luar rumah dalam waktu singkat sudah terkena debu. Rambut dan pakaian warga bahkan disebut cepat berubah warna akibat paparan debu jalan.
“Kalau kita berdiri di luar rumah satu sampai dua menit, rambut sudah kuning,” ujarnya.
Kondisi tersebut semakin dikhawatirkan warga karena terjadi bersamaan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Ketapang.
Hariansyah mengatakan warga khawatir paparan debu jalan dan asap berdampak terhadap kesehatan, terutama jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama.
Karena itu, pemerintah desa meminta adanya penyiraman jalan secara rutin. Setidaknya satu hingga dua kali dalam sepekan selama kondisi jalan masih menghasilkan debu.
Hariansyah mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Barat melalui sambungan telepon.
Menurut dia, kepala dinas menyanggupi permintaan penyiraman jalan. Namun, hingga Selasa (22/9/2026), penyiraman belum dilakukan.
“Beliau merespon, tetapi sampai hari ini belum ada apa-apa,” katanya.
Hariansyah menyebut pemerintah desa sebenarnya siap membantu pelaksanaan penyiraman. Pemerintah desa dapat menggerakkan karang taruna untuk membantu apabila fasilitas pendukung tersedia.
Salah satu opsi yang disiapkan berupa pengadaan tangki air berkapasitas sekitar 5.000 liter di kawasan Sungai Nanjung. Pemerintah desa juga mengusulkan penyediaan mesin dan slang untuk mendukung kegiatan tersebut.
“Kalau sarana dan prasarana ada, biar saya suruh karang taruna yang menyiram jalan, ” ujarnya.
Hariansyah berharap penyiraman jalan segera dilakukan. Menurut dia, langkah tersebut penting untuk mengurangi debu yang masuk ke permukiman warga, terlebih kondisi udara di wilayah Ketapang juga sedang terdampak karhutla. (Ndi)
