![]() |
| Rumah Umi di KM 6 Jalan Pelang-Kepuluk sempat nyaris terbakar karena berada di tengah kepungan karhutla. (Agustiandi/Suarakalbar.) |
Api membesar dan mendekati rumahnya pada Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Panik, Umi bersama keluarganya langsung keluar dari rumah.
Rumah tersebut sekaligus menjadi tempat usaha warung yang menjadi sumber penghasilan keluarganya.
"Sekitar jam sembilan pagi tiba-tiba api besar. Kami langsung keluar rumah. Kami takut," kata Umi saat ditemui di warungnya, Minggu (30/8/2026).
Kekhawatiran Umi bukan tanpa alasan. Tiga tahun lalu, kawasan gambut tersebut juga pernah terdampak kebakaran. Kini, karhutla kembali terjadi di sekitar permukiman.
Umi menyebut kebakaran di kawasan Pelang sudah berlangsung lama. Sementara api mulai mendekati sekitar warungnya dalam sebulan terakhir. Meski api beberapa kali muncul tidak jauh dari rumah, Umi mengaku tidak mengungsi.
"Api di depan rumah, di samping rumah, tapi kami tidak mengungsi. Mau ke mana lagi," ujarnya.
Kondisi itu membuat Umi dan keluarganya tidak dapat beristirahat dengan tenang. Api yang sudah dipadamkan sewaktu-waktu kembali muncul.
"Hari ini padam, besok hidup lagi. Kepak madamkan mah," tuturnya.
Kendati demikian, Ia bersyukur rumahnya menggunakan atap seng. Menurutnya, jika rumah dengan atap yang mudah terbakar akan menghadapi risiko lebih besar ketika api mendekat.
"Musim api begini tidur tak nyenyak. Syukur atap seng. Kalau atap daun, wassalam," ujarnya.
![]() |
| Sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hanya berjarak beberapa meter dari rumah Umi di KM 6 Jalan Pelang. (Agustiandi/Suarakalbar) |
Selain ancaman api, kemarau panjang juga membuat kebutuhan air bersih semakin sulit. Untuk mandi, keluarga Umi harus membeli air Rp40.000 per drum.
Sekali membeli, ia menyiapkan lima drum dengan biaya Rp200 ribu. Persediaan tersebut harus cukup untuk memenuhi kebutuhan lima anggota keluarganya selama sekitar satu minggu.
"Untuk satu minggu tu, cukup tidak cukup, harus cukup. Mandi pun paling banyak dua kali sehari, pagi dan malam," katanya.
Sementara untuk kebutuhan minum, Umi membeli air galon seharga Rp10.000 per galon yang diantar hingga ke rumahnya.
Di tengah ancaman karhutla, petugas gabungan masih melakukan pemantauan dan penanganan ketika api kembali muncul. TNI, Polri, BPBD, dan Manggala Agni turut berjaga di sejumlah lokasi terdampak.
Bagi Umi, kondisi ini membuat rasa aman di rumah sendiri menjadi sesuatu yang sulit dirasakan. Setiap kali api kembali menyala, kekhawatiran rumah dan warungnya ikut terbakar kembali muncul. (Ndi)

