Harga Karet Anjlok, Banyak Pengusaha di Ketapang Alihkan Bisnis

Editor: Editor : Redaksi author photo
Karet balok direndam
Ketapang (Suara Ketapang)- Harga karet anjlok bebas, sehingga para pemain bisnis komoditi yang konon jadi unggulan itu harus angkat koper alih bisnis lain.

"Belasan tahun harga karet
memprihatinkan, entah kapan kembali seperti dulu lagi,  sekarang tinggal Rp. 5000/Kg," keluh Luas, petani karet di dusun Air Tebadak, Desa Air Upas, Kecamatan Air Upas, Ketapang.

Kondisi harga seperti ini menurutnya berdampak sangat buruk. Banyak petani karet meninggalkan rutinitas yang sudah turun-temurun mereka lakukan dalam memenuhi kebutuhannya.

Selain harga anjlok, produksi sadapan pun turun hingga 50%  dari biasanya, disebabkan daun karet gugur akibat kemarau panjang saat ini. Pendapatan petani rata-rata memperoleh 20Kg perharinya, turun tinggal 10 Kg.

Turunnya animo petani karet di Air Upas akibat harga anjlok, berbanding lurus dengan enggannya para pengusaha setempat untuk membeli karet petani.

Apheng Balaban, salah satu pengusaha sukses di Air Upas, yang sempat membeli karet  ketika harga masih tinggi berkisar tahun 2008 hingga 2011 mengatakan bahwa saat ini banyak pengusaha yang tidak tertarik lagi untuk berbisnis karet.

Dikatakannya bahwa tidak stabilnya harga di pasaran sejak tahun 2011, banyak pengusaha karet harus banting stir mencari peluang bisnis lain. Harga karet tahun ke tahun kian anjok berakibat terkadang pembeli mengalami kerugian karena karet yang sudah dibeli tak jarang harus dijual murah dari harga beli. Kuota untuk di pasarkan pun saat ini sangat tidak memadai lagi.

"Produksi karet di Air Upas turun drastis. Pada tahun 2008 hingga 2011 bisa mencapai 500 ton setiap bulannya, sedangkan sekarang kurang lebih di angka 50 ton sebulan," terang Apheng balaban.

Pantauan awak media Suarakalbar.co.id memang benar tidak ada lagi pembeli karet dalam partai besar di Air Upas.

Petani karet menjual kepada pengumpul, selanjutnya pengumpul menunggu pembeli dari Pontianak yang datang ke Air Upas sambil membawa pesanan barang untuk dibawa ke Air Upas. Datang tidak menentu. Tidaklah heran jika pengumpul baru dapat menjual karetnya  3 hingga 5 bulan kemudian.

Kimcua, Pengusaha Air Upas yang juga pernah membeli karet pada saat itu, menjelaskan hal yang sama dengan yang dikatakan Apheng Balaban. Dikatakannya, puncak harga karet balok di Air Upas sepuluh tahun yang lalu mencapai Rp. 20.000/Kg, kemudian turun terus hingga saat ini.

"Sepertinya sulit untuk kembali seperti harga dulu lagi, bahkan banyak bagi yang tidak sabar, kebun-kebun karet yang kurang produktif ditebang dan diganti dengan kelapa sawit," ujarnya Jumat (20/9/2019).

Menurut Kimcua, saat ini beberapa petani sawit sudah memasuki tahap replanting dan kurang lebih lima tahun ke depan hampir semua kebun plasma akan diremajakan kembali. Ini akan sangat berdampak pada pendapatan petani. Bagi yang tidak memiliki kebun sawit cadangan di pekarangan pribadi, ketika kebun sawit plasma diremajakan kembali, pada masa itu akan mengalami kondisi ekonomi yang sulit.

Menurutnya, pada masa replanting itu karet kembali menjadi andalan sumber pendapatan, khususnya bagi penduduk asli Air Upas. Apa bila harga karet terus melemah, ini sangat memprihatinkan. (Jansen)

Share:
Komentar

Berita Terkini