Simak! Hasil Investigasi Pemda Ketapang Terhadap Kelangkaan Minyak Goreng

Editor: Redaksi author photo

Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Koperasi UMKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Ketapang, Asep Suhendar. (Suara Kalbar/Agustiandi).
Ketapang (Suara Ketapang) - Pemerintah Kabupaten Ketapang melalui Dinas Koperasi UMKM, Perdagangan dan Perindustrian melakukan investigasi terkait kelangkaan minyak goreng.

Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Koperasi UMKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Ketapang, Asep Suhendar menyampaikan, kelangkaan minyak goreng terjadi sejak pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET). 

Asep mengatakan, PT Wilmar Pontianak menjadi satu-satunya produsen yang aktif menyalurkan minyak goreng di Kabupaten Ketapang. Padahal pemerintah telah menunjuk lima perusahaan, namun tidak berjalan sesuai mekanisme. 

Di Kabupaten Ketapang, lanjut Asep, ada tiga distributor yang ditunjuk PT. Wilmar Pontianak sebagai penyalur resmi minyak goreng kemasan, diantaranya CV Surya Pawan Jaya, PT Bintang Pawan Jaya dan PT Borneo Sukses.

"Namun PT Wilmar hanya mampu mensuplai minyak goreng sebesar 30 persen dari kebutuhan kita," ujar Asep saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (4/3/2022) sore.

Dalam satu minggu, kata Asep, ketiga distributor tersebut biasanya mendapat dua kali pasokan dari produsen. PT Bintang Pawan Jaya dan CV Surya Pawan Jaya mendapat pasokan rata-rata sebanyak 5.400 dus atau 71,28 ton, sementara PT Borneo mendapat pasokan sebanyak 1.600 dus atau kisaran di 23,76 ton perminggu.

"Sementara PO mereka yang diusulkan Kepada PT Wilmar sebanyak 6 ribu dus atau 211,2 ton dalam satu minggu, namun hanya dipenuhi 33,75 persen," sambungnya.

Asep mengungkapkan, dari hasil pengamatan sementara di lapangan, pihaknya belum menemukan indikasi penimbunan, namun justru lebih ke arah fenomena panic buying (konsumen membeli secara berlebihan). 

"Terkait penetapan harga di lapangan dari suplayer ke sub agen mereka menjual Rp12.500 perliter, sub agen menjual kembali ke pasar tradisional dan pedagang eceran sebesar Rp13.000 perliter, kemudian pasar tradisional dan pedagang eceran menjual ke konsumen Rp14.000 perliter," akunya. 

"Namun di tingkat pengecer, kami masih menemukan penjual yang menjual diharga Rp18 ribu hingga Rp20 ribu perliter. Berdasarkan keterangan mereka bahwa hanya bisa membeli minyak goreng tersebut maksimal dua dus," sambung Asep. 

Baca juga : Minyak Goreng Semakin Langka di Ketapang, Kalaupun Ada Harganya 'Selangit'

Guna mengantisipasi kelangkaan, pihaknya mengaku telah melakukan program pendistribusian minyak goreng kepada masyarakat setempat dan pedagang kaki lima, khususnya penjual gorengan di sekitar area Kota Ketapang.

"Kami membagikan minyak goreng gratis hasil kerjasama dengan pihak perusahaan PT Cargil sebagai bentuk Program Corparate Social Responsibility ( CSR ) sebanyak 500 liter," paparnya.

Tak hanya dengan PT Cargil, pihaknya juga telah membangun kerjasama dengan sejumlah perusahaan lain dalam memasok minyak goreng demi ketersediaan pasokan dan stabilitas harga.

Kendati demikian, jika distribusi lancar, pihaknya memprediksi dalam satu dua minggu ke depan, pasokan akan kembali normal. Sebab berdasarkan Informasi dari Kementerian Perdagangan pasokan minyak goreng untuk Kalimantan Barat aman. (Ndi).

Share:
Komentar

Berita Terkini