![]() |
| Menu MBG yang diterima salahsatu siswa di Kabupaten Ketapang pada Senin (23/2/2026). (ist) |
Seorang siswa penerima manfaat di Kecamatan Matan Hilir Selatan mengaku menerima paket menu kering saat awal masuk sekolah di bulan Ramadan.
“Tidak tahu untuk sehari atau tiga hari. Saya dapat dua susu, tiga roti, enam kurma, tiga telur rebus, satu pisang dan satu apel,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan orang tua siswa di Kecamatan Benua Kayong. RA (47), yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengatakan anaknya menerima menu hampir sama.
“Kurang lebih sama, kuenya empat. Itu untuk tiga hari. Nanti baru dapat lagi hari Kamis,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, membenarkan bahwa selama Ramadan distribusi dilakukan dengan menu kering. Menu tersebut antara lain telur, buah, roti, kurma atau makanan khas lokal lainnya.
“Menunya makanan kering. Tetap menerapkan SOP keamanan pangan dan kaidah pemenuhan gizi seimbang. Bukan makanan kemasan dalam arti produk pabrikan ultra-processed food (UPF) yang dijadikan menu utama SPPG,” jelasnya.
Ia menegaskan, sesuai petunjuk teknis Badan Gizi Nasional (BGN), menu yang mudah basi dan bercita rasa pedas tidak dianjurkan.
“Tidak diperbolehkan menggunakan menu yang mudah basi karena distribusi dilakukan pagi hari, lalu dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka puasa,” tegasnya.
Agus Kurniawi menyebut sejumlah catatan dari masyarakat sudah ditindaklanjuti. Pihaknya telah berkoordinasi dengan dapur penyedia untuk perbaikan menu ke depan.
Sementara itu, Koordinator Wilayah MBG Ketapang, Boby Nur Haliandi, menjelaskan distribusi selama Ramadan dilakukan dengan dua skema, yakni harian dan rapel tiga hari.
“Benar, ada yang didistribusikan tiga hari sekali dan ada juga yang setiap hari,” ujarnya.
Terkait penggunaan kantong plastik pada beberapa menu, Boby mengatakan hal itu untuk menjaga kebersihan makanan.
“Ada menu yang harus dibungkus plastik bening agar tidak terkontaminasi atau terkena debu. Setelah itu dimasukkan kembali ke dalam tote bag,” pungkasnya. (Ndi)
