-->

Terdesak Karhutla, Orangutan 'Wak' Dievakuasi dari Kebun Warga di Ketapang

Editor: Agustiandi author photo

Tim gabungan BKSDA Kalbar, YIARI, PT Mopakha, dan masyarakat mengevakuasi orangutan jantan "Wak" dari perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Satwa dilindungi itu kemudian dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya setelah keluar dari hutan akibat kebakaran. (Foto : YIARI) 
Ketapang (Suara Ketapang) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang kembali berdampak pada satwa liar. Seekor orangutan jantan yang diberi nama 'Wak' dievakuasi dari perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, setelah keluar dari habitatnya akibat kebakaran.

Evakuasi dilakukan tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI), PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha), dan masyarakat.

Orangutan tersebut pertama kali terlihat di kebun buah warga pada Juli 2026. Selain berpotensi merusak tanaman, keberadaannya juga dinilai berisiko karena kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sekitar lokasi.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengatakan karhutla dan pembukaan lahan telah merusak habitat orangutan sehingga satwa itu terdorong masuk ke perkebunan warga.

"Orangutan kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung. Akibatnya, konflik dengan masyarakat semakin sering terjadi. Yang dirugikan bukan hanya satwa dan warga, tetapi juga negara yang harus menangani kebakaran dan konflik satwa liar," kata Silverius Oscar, melalui keterangannya, Jumat (7/8/2026). 

Usai dievakuasi, Wak dilepasliarkan ke kawasan hutan dalam konsesi PT Mopakha yang masih berada di bentang habitat asalnya dan dinilai memiliki kondisi hutan serta sumber pakan yang memadai.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan penyelamatan tersebut merupakan bentuk mitigasi konflik satwa liar. 

Menurutnya, perlindungan habitat dan pengendalian karhutla menjadi kunci agar konflik manusia dan orangutan tidak terus berulang di Ketapang. (Ndi) 

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play