-->

Menhut Datang ke Ketapang, Bawa Rp20 Miliar Banpres untuk Tangani Karhutla

Editor: Agustiandi author photo

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (kanan) bersama Bupati Ketapang Alexander Wilyo saat meninjau penanganan Karhutla di daerah Tanjungpura Ketapang, Selasa (8/9/2026). (ist) 
Ketapang (Suara Ketapang) - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni membawa kabar penting saat berkunjung ke Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pemerintah pusat telah menyalurkan Bantuan Presiden (Banpres) sebesar Rp20 miliar untuk mendukung mitigasi dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

Hal itu disampaikan Raja Juli Antoni usai mengikuti Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla bersama Pemerintah Kabupaten Ketapang di Ruang Rapat Utama Kantor Bupati Ketapang, Selasa (8/9/2026) malam.

Raja Juli mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian Presiden Republik Indonesia terhadap kondisi Karhutla di Ketapang.

“Alhamdulillah, Pak Presiden punya perhatian khusus untuk Ketapang. Bantuan Presiden sebesar Rp20 miliar sudah ditransfer ke Pemda,” kata Raja Juli.

Menurut dia, bantuan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat kebutuhan penanganan Karhutla. Di antaranya pengadaan alat pelindung diri, pompa air dan nozzle.

Anggaran itu juga diharapkan mendukung operasional serta meningkatkan semangat para relawan yang selama ini terlibat dalam penanganan Karhutla di lapangan.

Sebelum mengikuti rapat koordinasi, Raja Juli bersama Bupati Ketapang Alexander Wilyo dan jajaran Forkopimda meninjau langsung sejumlah lokasi Karhutla. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi kebakaran sekaligus mengevaluasi upaya pemadaman.

Raja Juli menyebut kondisi Karhutla di Ketapang mulai menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data yang diterimanya, jumlah hotspot terus menurun.

“Dari data yang ada per malam tadi, hotspot di Ketapang terus turun. Berkat kerja sama Bupati, TNI, Polri, KPH, Manggala Agni, masyarakat peduli api dan seluruh pihak lainnya, sekarang tinggal 13 hotspot,” ujarnya.

Namun, penurunan hotspot tidak boleh membuat penanganan dihentikan. Ia pun meminta seluruh unsur tetap fokus memadamkan titik-titik api yang masih tersisa. Sebab, kebakaran di lahan gambut memiliki tantangan berbeda dibandingkan tanah mineral.

“Jangan sampai penurunan angka hotspot ini membuat kita menganggap pekerjaan sudah selesai. Kita harus terus memadamkan sisa titik hotspot tersebut,” tegasnya.

Selain memperkuat penanganan di lapangan, Raja Juli juga menekankan pentingnya penegakan hukum. Ia meminta aparat tidak hanya menindak masyarakat, tetapi juga pihak korporasi apabila terbukti melakukan pembakaran.

“Hukum tidak boleh tajam ke bawah hanya kepada masyarakat, tetapi juga harus berani tajam ke atas kepada pihak korporasi,” tegasnya.

Bupati Minta Dukungan Water Bombing

Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengatakan pemerintah daerah bersama TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat, perusahaan dan berbagai unsur lainnya telah menangani Karhutla selama lebih dari dua bulan.

Menurut Alex, salah satu kendala utama berada di kawasan gambut. Kebakaran sulit dipadamkan karena kedalaman gambut dan keterbatasan sumber air.

Sementara itu, sejumlah titik kebakaran di wilayah pedalaman terjadi di kawasan tanah mineral. Lokasinya sulit dijangkau Satgas Darat karena akses jalan terbatas dan jarak yang cukup jauh.

Karena itu, Pemkab Ketapang meminta dukungan Satgas Udara melalui operasi water bombing.

“Tadi saya sampaikan kepada Menteri Kehutanan dan pihak BNPB bahwa water bombing akan lebih efektif untuk daerah mineral dibandingkan daerah gambut,” kata Alex. 

Ia juga berharap pemerintah pusat terus memperkuat dukungan penanganan Karhutla. Termasuk kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca apabila kondisi memungkinkan.

Orang nomor satu di Kabupaten Ketapang itu berharap hujan segera turun sehingga kebakaran dapat dikendalikan dan aktivitas masyarakat kembali normal.

“Mudah-mudahan suasana dan situasi Karhutla semakin membaik di Ketapang dan kita bisa kembali normal,” pungkasnya. (Ad) 

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play