![]() |
| Plt Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Ridwan (kanan) dan Kepala BPBD Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwanto. (*) |
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Ridwan, mengatakan Ketapang menjadi fokus operasi karena memiliki titik api terbanyak. Operasi tersebut, menurut dia, telah diarahkan sejak awal April.
“BPBD Provinsi bergerak itu dari awal April, itu sudah mengarahkan operasi, kami memfokuskan ke wilayah tersebut. Wilayah yang paling banyak titik apinya, ya memang sekarang ini yang masih banyak dan yang dari awal itu, paling banyak itu Kabupaten Ketapang,” kata Ridwan kepada awak media, Senin (5/10/2026).
Namun, Kepala BPBD Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwanto, menyebut kebakaran di wilayahnya sepanjang 2026 berlangsung dalam dua tahap, dengan jeda antara kedua periode tersebut.
“Karhutla di Ketapang itu, terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama kebakaran dari 18 Januari sampai dengan 29 Maret 2026, sempat jada karena ada hujan. Lalu tahap kedua kebakaran mulai 5 Juli sampai sekarang,” kata Yunifar, Jumat (9/10/2026).
Berdasarkan keterangan tersebut, kebakaran tahap pertama berakhir pada 29 Maret 2026. Sementara itu, kebakaran tahap kedua baru dimulai pada 5 Juli 2026.
Helikopter Baru Standby Agustus
Perbedaan kronologi juga terlihat pada catatan dukungan operasi udara untuk penanganan karhutla di Ketapang.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rahadi Oesman Ketapang, Dwi Muji Raharjo, mengatakan helikopter mulai bersiaga di bandara tersebut pada 18 Agustus 2026.
“Helikopter mulai standby di Bandar Udara Rahadi Oesman sejak 18 Agustus 2026, diawali oleh helikopter dari PT Smart Cakrawala Aviation (N61AA),” ujar Dwi.
Hingga 8 Oktober 2026, terdapat empat helikopter yang bersiaga untuk mendukung penanganan karhutla di Kabupaten Ketapang. Jumlah itu terdiri atas tiga helikopter BNPB dan satu helikopter swasta.
“Terdapat 3 helikopter BNPB, terdiri dari 2 helikopter Water Bombing (WB) dan 1 helikopter Fire Patrol, serta 1 helikopter swasta untuk Water Bombing (WB),” jelasnya.
Helikopter tersebut disiagakan setiap hari. Namun, pelaksanaan penerbangan tetap bergantung pada kondisi jarak pandang. Jika jarak pandang tidak memenuhi ketentuan keselamatan penerbangan, operasi helikopter tidak dapat dilakukan.
Catatan BPBD Ketapang dan UPBU Rahadi Oesman itu memberikan gambaran mengenai kronologi kebakaran dan dukungan operasi udara di lapangan. Sementara itu, BPBD Provinsi Kalbar menyatakan fokus operasi penanganan karhutla di Ketapang telah diarahkan sejak awal April 2026. (Ndi)
