-->

Korban Dugaan Keracunan MBG di Marau, Ketapang Bertambah Jadi 417 Orang

Editor: Agustiandi author photo

Tenda darurat digunakan untuk penanganan siswa korban dugaan keracunan menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Ketapang, Kamis (5/2/2026). (ist) 
Ketapang (Suara Ketapang) — Jumlah warga yang diduga mengalami keracunan makanan dari Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali bertambah. Hingga Minggu (8/2/2026), total korban tercatat mencapai 417 orang.

Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, mengatakan sebagian besar korban telah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan. Namun, hingga saat ini masih ada delapan orang yang dirawat secara intensif.

“Update per hari ini, Minggu 8 Februari 2026, jumlah total terdampak sebanyak 417 orang. Saat ini tersisa delapan orang yang masih menjalani perawatan medis,” ujar Agus. 

Ia merinci, lima pasien masih dirawat di Puskesmas Marau, sementara tiga lainnya dirujuk ke RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Dari pasien rujukan tersebut, satu orang siswa tingkat SMP, telah dinyatakan pulih. Adapun dua pasien lainnya dan satu orang guru masih dalam penanganan lanjutan.

Menurut Agus, pihaknya terus melakukan pemantauan kondisi para korban sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program MBG agar kejadian serupa tidak terulang. 

“Kami rutin berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang untuk pembaruan data korban, serta dengan Koordinator Wilayah MBG Ketapang guna memastikan kondisi terkini di lapangan,” katanya.

Terkait penyebab dugaan keracunan, Agus menyebut hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan muntahan korban hingga kini belum keluar. Meski demikian, dugaan awal mengarah pada menu perkedel tahu.

“Perkedel tahu tersebut dibuat pada Selasa malam, 3 Februari 2026, sekitar pukul 19.00 WIB, lalu diolah kembali pada Rabu dini hari, 4 Februari 2026,” ujarnya.

Menu MBG yang disajikan pada Rabu (4/2/2026) terdiri atas nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi dan wortel, serta puding. Sehari setelahnya, para penerima manfaat mulai merasakan gejala seperti pusing, mual dan muntah.

“Sebagian warga mengira hanya mual biasa sehingga tidak langsung berobat. Dari pola kejadian, kami menyimpulkan gejala yang muncul pada Kamis pagi kemungkinan besar berasal dari menu hari Rabu,” kata Agus.

Laporan dugaan keracunan baru diterima pihak MBG dari pihak sekolah pada Kamis pagi (5/2/2026). Setelah banyak siswa tidak masuk sekolah akibat mengalami mual dan muntah. 

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim pengawas gizi, pengawas keuangan, serta asisten lapangan langsung diterjunkan ke lokasi untuk berkoordinasi dengan pihak sekolah dan Puskesmas Marau.

Sebagai langkah penanganan awal, distribusi menu MBG pada Kamis dihentikan sementara guna memfokuskan penanganan medis terhadap siswa dan warga yang terdampak. (Ndi) 

Share:
Komentar

Berita Terkini