-->

Belajar dari Hutan: Tentang Menjaga dan Bertumbuh Bersama
Refleksi Hari Hutan Sedunia

Editor: Agustiandi author photo

Hutan Desa Sembelangaan, Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang, Kalbar. Kawasan ini merupakan bagian dari skema perhutanan sosial, di mana masyarakat desa berperan sebagai pengelola utama yang menjaga sekaligus memanfaatkan hutan secara bijak. (*) 
Ketapang (Suara Ketapang) - Kita sering membicarakan hutan dalam angka—luas tutupan, laju deforestasi, atau target rehabilitasi. Namun di balik itu, ada cerita-cerita yang jarang terdengar: tentang bagaimana hutan dijaga, dirawat, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hari Hutan Sedunia membuka ruang untuk melihat bahwa di balik setiap upaya besar, ada praktik nyata yang lahir dari kerjasama di lapangan—yang tumbuh perlahan dan berakar pada kehidupan masyarakat.

Salah satu pendekatan yang terus berkembang di Indonesia adalah perhutanan sosial, yaitu upaya memberi ruang bagi masyarakat untuk mengelola hutan secara legal dan berkelanjutan. 

Melalui skema ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus mengembangkan sumber penghidupan mereka.

Dalam praktiknya, pengelolaan hutan tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh melalui kolaborasi—antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak yang turut mendukung proses di lapangan.

Pendekatan kolaboratif ini menjadi salah satu kunci dalam menjaga keseimbangan antara fungsi ekologis hutan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Gambaran tersebut dapat ditemukan di Kalimantan Barat, tepatnya di Hutan Desa Sembelangaan. Kawasan ini merupakan bagian dari skema perhutanan sosial, di mana masyarakat desa berperan sebagai pengelola utama yang menjaga sekaligus memanfaatkan hutan secara bijak.

Seiring berjalannya waktu, pengelolaan kawasan ini berkembang secara bertahap. Pendekatan yang sebelumnya lebih berorientasi pada produksi mulai bergeser menuju pola yang lebih seimbang. Masyarakat mengelola lahan melalui sistem agroforestri, mengembangkan komoditas seperti kakao dan hortikultura sebagai sumber penghasilan tambahan, tanpa menghilangkan fungsi hutan sebagai ruang lindung.

Dalam proses tersebut, keterlibatan berbagai pihak turut memperkuat inisiatif yang sudah berjalan. Melalui kemitraan yang terbangun, termasuk dengan Bumitama (BGA Group), dilakukan berbagai upaya pendukung seperti peningkatan akses menuju kawasan, penataan fasilitas dasar, serta pendampingan dalam pengembangan lahan produktif. Peran ini menjadi bagian dari proses bersama yang mendukung pengelolaan kawasan secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Salah satu bagian dari kawasan ini, Air Terjun Batu Hitam, yang kemudian berkembang sebagai ekowisata desa. Tidak hanya menjadi tujuan kunjungan, kawasan ini juga mencerminkan bagaimana lingkungan yang terjaga dapat memberikan nilai sosial dan ekonomi secara bersamaan.

Menurut Kuswadi S.P., M.Hut, Kepala KPH Wilayah Ketapang Selatan, kawasan ini pernah dipilih sebagai lokasi pelaksanaan Forum Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Kalimantan Barat, dimana penentuan tersebut bukan semata karena keindahan alamnya, tetapi karena dinilai sebagai ruang belajar lapangan yang memperlihatkan keberhasilan pendekatan berbasis masyarakat—yang berjalan baik, konsisten, dan menjadi salah satu rujukan di Kalimantan Barat.

Perjalanan Hutan Desa Sembelangaan mencerminkan bahwa menjaga hutan bukanlah proses yang instan. Ia tumbuh melalui waktu, melalui penyesuaian, dan melalui keterlibatan banyak pihak yang saling melengkapi.

Hari Hutan Sedunia menjadi pengingat bahwa upaya menjaga hutan berlangsung tiap hari, di berbagai tempat, dengan cara yang beragam. Dari praktik-praktik yang berkembang di tingkat tapak, kita dapat melihat bahwa ketika masyarakat diberi ruang, didukung oleh kebijakan, dan diperkuat melalui kolaborasi, hutan tidak hanya tetap lestari, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dari keberlanjutan kehidupan di sekitarnya. (*) 

Share:
Komentar

Berita Terkini