Imbauan tersebut disampaikan menyusul adanya laporan kasus Virus Hanta di Indonesia yang dirilis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dari total 23 kasus terkonfirmasi secara nasional, satu kasus dilaporkan berasal dari Kalimantan Barat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira, mengatakan Virus Hanta dapat menular melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang mengering dan terhirup manusia.
“Virus Hanta dapat menular melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering lalu terhirup manusia. Karena itu masyarakat harus rutin menjaga kebersihan rumah, termasuk gudang maupun plafon rumah yang jarang dibersihkan,” ujar Feria, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, langkah pencegahan paling efektif dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus.
Ia mengingatkan masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama menjaga sanitasi rumah dan area penyimpanan bahan makanan.
“Pastikan makanan disimpan dalam wadah tertutup rapat. Hindari penumpukan barang atau sampah di sekitar rumah karena dapat menjadi sarang tikus,” tambahnya.
Selain itu, warga diminta berhati-hati saat membersihkan area yang lama tidak digunakan seperti gudang, loteng, maupun plafon rumah yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus.
Dinkes menyarankan masyarakat menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area berdebu. Area yang diduga tercemar juga disarankan disemprot cairan disinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan guna mencegah partikel virus beterbangan di udara.
Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, mual, hingga gangguan pernapasan setelah berada di lingkungan yang banyak terdapat tikus.
Secara medis, Virus Hanta diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru serta Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Feria menegaskan pihaknya akan terus melakukan pengawasan dan surveilans aktif, terutama di wilayah dengan populasi tikus yang tinggi. Namun, ia menilai upaya pencegahan tidak akan maksimal tanpa keterlibatan masyarakat.
“Peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi benteng pertahanan pertama yang paling efektif untuk mencegah penyebaran Virus Hanta,” pungkasnya. (Ndi)
