![]() |
| Kolase upaya PT AER Nova Anugrah Resources melakukan penanganan karhutla. (*) |
Koordinator Public Relations (PR) NAA, Nikolaus Ridiono, mengatakan perusahaan mengerahkan hingga 168 personel serta puluhan unit pompa, alat berat, mobil tangki dan kendaraan pengangkut air untuk mengendalikan kebakaran yang merembet ke wilayah konsesi perusahaan.
"Karhutla pertama kali muncul dari kawasan sekitar Jalan Pelang, tepatnya di sekitar Kafe Merah, pada 21 Agustus 2026. Tim PT AER kemudian turun ke lapangan untuk membantu pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan pemadaman," kata Nikolaus melalui keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Nikolaus, mengatakan perusahaan sejak awal berupaya mendukung penanganan karhutla, termasuk melalui pembangunan Pos Karhutla di Jalan Pelang. Selain itu, perusahaan memberikan dukungan konsumsi bagi relawan pemadam kebakaran di Pos Karhutla Pelang.
"Tim NOVA langsung turun ke sana. Kita bantu pemerintah dan BPBD," kata Nikolaus.
Dukungan lainnya dilakukan melalui pendalaman parit di sisi kiri dan kanan Jalan Poros Pelang–Kepuluk. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat ketersediaan sumber air bagi tim pemadam.
PT AER juga menyalurkan sarana dan prasarana pemadam kebakaran kepada Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Sungai Pelang, Sungai Besar dan Negeri Baru.
Perusahaan turut membantu biaya pengobatan anggota MPA Sungai Pelang yang mengalami sesak napas saat melakukan pemadaman.
Perkuat Personel di Area Konsesi
Setelah pemadaman awal, PT AER menempatkan tim di kawasan perbatasan antara konsesi perusahaan dan lahan masyarakat.
Dua tim pemadam dengan total sekitar 30 personel diterjunkan. Dua unit excavator juga dioperasikan untuk membuat sekat api di dalam wilayah konsesi.
Namun, kondisi di lapangan berubah akibat angin kencang. Api terus bergerak hingga akhirnya memasuki kawasan konsesi perusahaan pada 22 Agustus 2026 sore. Saat itu, jarak pandang di lokasi hanya sekitar dua meter akibat pekatnya asap.
PT AER kemudian menambah kekuatan personel. Jumlahnya sempat mencapai 168 orang yang terdiri atas tenaga kerja PT AER, MPA Sungai Pelang, MPA Sungai Besar, TNI, Polri dan personel bantuan Brimob. Sekitar 60 personel di antaranya diterjunkan langsung ke titik kebakaran.
"Pada tanggal 22 Agustus sore, api mulai masuk ke konsesi. Karena jarak pandang hanya dua meter, kita full tim. Sekitar 60 personel terjun berjibaku memadamkan api," ujar Nikolaus.
Didukung Puluhan Pompa dan Sembilan Excavator
Besarnya kekuatan personel juga didukung peralatan pemadam dan alat berat. PT AER mengoperasikan 15 unit pompa bertekanan tinggi berkapasitas 24 HP serta satu unit pompa berkapasitas 90 HP.
Pompa berkapasitas besar tersebut mampu mengalirkan air hingga sekitar 2.050 liter per menit dengan konsumsi bahan bakar sekitar 12 liter per jam.
![]() |
| Staf PT AER menunjukkan mesin pompa berkapasitas 90 HP, mesin ini mampu mengalirkan air hingga sekitar 2.050 liter per menit (Agustiandi/Suarakalbar) |
Untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani menggunakan pompa besar, perusahaan juga menyiapkan 32 unit pompa jinjing.
Dukungan alat berat turut diperkuat. Dari semula dua unit excavator, jumlahnya ditambah menjadi enam unit dan kemudian mencapai sembilan unit.
Alat berat tersebut digunakan antara lain untuk membuka akses dan membuat sekat guna menghambat pergerakan api.
Untuk menjamin pasokan air, lima mobil tangki dengan kapasitas masing-masing 8.000 liter juga dikerahkan.
Selain itu, terdapat lima dump truck yang dimodifikasi sebagai kendaraan pengangkut air berkapasitas sekitar 5.000 liter serta empat kendaraan single cabin dengan kapasitas sekitar 1.000 liter.
Kepala Api Terkendali, Pendinginan Berlanjut
Upaya pemadaman berlangsung selama beberapa hari. Pada 27 Agustus 2026, bagian kepala api berhasil dikendalikan.
Meski demikian, penanganan belum sepenuhnya dihentikan. Tim masih berada di lapangan untuk melakukan pendinginan dan memastikan bara serta titik panas yang tersisa tidak kembali memicu kebakaran.
Saat ini, sekitar 96 personel masih dikerahkan untuk melakukan proses pendinginan di area yang sebelumnya terbakar.
Penanganan juga diperkuat dengan pembangunan kolam sumber air di pinggir jalan kabupaten Pelang-Kepuluk yang mulai dikerjakan sejak 14 Agustus 2026.
Sebanyak 37 kolam tersebut dibangun di kawasan yang dinilai rawan karhutla. Ukurannya sekitar 20 meter x 4 meter dengan jarak antar kolam sekitar 50 meter.
![]() |
| Kolam sumber air yang digali PT AER di sisi kiri dan kanan Jalan Pelang-Kepuluk sebagai sumber air untuk membantu penanganan karhutla. (Agustiandi/Suarakalbar). |
Lokasi kolam berada di sisi kiri dan kanan jalan kabupaten yang menjadi salah satu kawasan rawan kebakaran.
"Kolam sumber air ini kami siapkan sebagai dukungan serius kepada pemerintah daerah dalam penanganan karhutla," ujarnya.
Selain penanganan melalui jalur darat, kawasan tersebut juga mendapat dukungan operasi water bombing dari satuan tugas udara.
Karakter Gambut Jadi Tantangan
Nikolaus menjelaskan, kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman.
Api tidak hanya membakar permukaan lahan. Dalam kondisi tertentu, api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya PT AER untuk memastikan penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman, tetapi juga pengendalian pascakebakaran dan pencegahan agar api tidak kembali meluas. (Ad)



